Tentang Ibnu : Ikut Terapi TW dan SI

Kali ini saya ingin cerita tentang Inu. Karena ini ada kaitannya dengan milestonenya Inu,  saya rasa sangat penting untuk dicatat disini. Memori saya sangat-sangat terbatas, sedangkan ada banyak hal yang ingin saya kenang untuk di ingat dan diketahui oleh anak-anakku nantinya.

Inu, tumbuh sebagai anak yang sangat aktif, cenderung tidak bisa diam, apalagi sejak dia bisa jalan, wuih capek deh ngikutinnya. Kurang lebih umur 16 bulan, dia sudah bisa mengucapkan mama, mengucapkan bapak umur 18 bulan. Bukan babling, kata itu memang diucapkan untuk memanggil kami. Tetapi that’s it, kesininya tidak banyak kata yang berarti lagi selain manggil nenek pada pengasuhnya dan “enci” untuk mengatakan minta susu, nonton tv atau lainnya.

Sampai suatu hari kira-kira 5 bulan yang lalu ga sengaja nemu video nya dr Hadiono di sini  dan sini , terkait anak dengan perlambatan bicara dan bahasa. Di video itu terang sekali dijelaskan tentang perlambatan bicara dan bahasa, kapan anak masuk kriteria  terlambat bicara dan kira-kira apa terapi yang tepat untuk dilakukan.

Setelah nonton video itu, saya mulai aware sama perkembangan bicara Inu. Pas umur 22 bulan saya sempat nanya ke DSA nya kebetulan lagi kontrol inu karena ada alergi. Saya tanya apakah normal kalo Inu belum bisa bicara. Saat itu dokternya  juga nyaranin untuk tunggu sampe 2 tahun kalau belum ada perkembangan juga disarankan Inu dibawa ke spesialis syaraf anak. Dari hasil ngobrol sama Abinya juga akhirnya kami sepakat  untuk menunggu sampai Inu 2 Tahun, dengan harapan sebelum 2 tahun tiba2 aja sudah mulai lancar bicara.

Agustus ini Inu genap 2 tahun. Dan belum ada perkembangan yang berarti dari sebelumnya. Saya mantapkan untuk bawa Inu ke klinik tumbuh kembang. Rencana awalnya, ingin bawa Inu ke dr Hardiono di klinik anakku. Tapi saya coba telpon gak pernah tersambung. Dan katanya juga berobat kesana antriannya panjang sekali sampai berbulan-bulan. dari hasil googling dan informasi dari kakakku, akhirnya saya coba telpon ke klinik tumbuh kembang Pela 9 di Kebayoran lama. Ternyata waktu itu antriannya cukup panjang juga sampai 30 September sudah full untuk Assesment, artinya baru 2 bulan lagi bisa ketemu dr nya. Tapi memang sudah rezekinya anak, saya dikabari kalau ada cancel di hari kamis tgl 20 Agustus. Tanpa pikir2 saya langsung oke untuk buat janji Assesment dihari itu. Saya langsung kabarin si Abi yang kebetulan lagi dinas diluar Kota. Tanpa banyak pertanyaan si Abi langsung jawab “lanjut”.

Pertimbangan saya ingin membawa ke klinik tumbuh kembang antara lain:

  1. Sampai usia 2 tahun ini, belum banyak kosa kata yang bisa diucapkan Inu. Hanya Mama, Bapak, Nenek dan mau saja yang sudah jelas pengucapannya. Selebihnya hanya “enci” dan uuh..uuh.. saja.
  2. Inu lebih senang bermain sendiri. Dan dia sangat konsen sekali kalo di depan TV. Sebenernya saya tau kalu TV kurang baik juga bagi Inu. Tapi ya ternyata susah juga menjauhkan TV dari dia.
  3. Inu saya rasakan kurang sensitif jika kami panggil. Terkadang dia akan nengok, tapi tidak jarang dia cuek saja walopun saya sudah cukup keras memanggilnya.

Sebenernya saya selalu berpegang teguh pada prinsip “every child is special on his/her way”. Saya percaya bahwa perkembangan setiap anak berbeda dengan yang lainnya. Saya memang  tidak terlalu paham teori tumbuh kembang secara mendalam, tapi saya berkeyakinan bahwa setiap tahapan usia anak ada standar yang menjadi acuan apakah si anak tumbuh dan berkembang dengan ‘sempurna’. Karena saya merasakan ada yang “kurang” terhadap perkembangan bicaranya inu, makanya saya mantapkan untuk datang ke knilik Pela.

Hari itu kamis tgl 20 Agustus  Saya, Dafi dan Inu sampai di ke Kinik Pela jam setengah 3an. Dibagian administrasi ada yang harus diisi terkait Inu. Mulai dari kapan inu mulai tengkurap, merangkak, duduk, jalan, sudah vaksin apa saja, silsilah keluarga, dll. Masuk ruang Assesment sudah jam 4 lewat. Lumayan lama juga menunggunya. Ruang  konsultasi di Pela 9 didesain seperti ruang tamu saja, jadi kita duduk di sofa berhadapan. saya konsultasi dengan dr. Iramaswaty Kamarul, Sp. A(K), dokter spesialis Neurolog Anak dan seorang psikolog yg saya lupa namnya hehehe. Karena terlalu kelamaan menunggu, pas tiba waktunya Inu udah mulai bosan. Jadinya gitu deh. Diruangan dia nangis jerit-jerit. Sehingga sepertinya  dr kurang optimal juga mengobsevasinya. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dr dan psikolognya. Tapi sepertinya observasi dari behavior Inu nya kurang optimal karena ternyata Inu gak bisa berhenti nangisnya. Beberapa observasi dan pertanyaan yang diajukan antara lain:

  1. Penguasaan bahasa: berapa kata dan kata apa saja yg sudah bisa diucapkan
  2. Apakah kata mama dan bapak yang diucapkannya itu memang ditujukan manggil kami atau cuman babbling
  3. Apakah sudah bisa menunjuk dirinya sendiri kalau ditanya “Inu mana ya?”
  4. Kemampuan dan kekuatan otot mulut/rahang: kemampuan mengunyah, meniup, dan menyedot
  5. Sensitifitas dan respons: apakah Inu takut/sensitif terhadap sesuatu (misal suara, binatang, bentuk, benda tertentu dll), tingkat respon apabila namanya dipanggil, tingkat sensitif terhadap sentuhan, dll.
  6. Kemampuan motorik: kemampuan jalan, lari, loncat,turun naik tangga, memasukkan benda, menyusun balok, dll.
  7. Apakah Inu takut main ayunan
  8. Apakah inu suka melempar-melempar barang, mukul-mukul kalau sedang marah
  9. Apakah senang nonton TV
  10. Dll masih banyak tp kami rasa hampir mirip-mirip lah pertanyaanya

Dari hasil observasi tersebut, dr. Ira mengambil kesimpulan bahwa Inu memang mengalami keterlambatan bicara. Tidak ada tanda-tanda ke arah Autis, karena kata dr. Ira, beliau masih merasakan ada kontak mata dari Inu. Lalu kami disarankan untuk :

  • menjalani dua terapi. Terapi wicara dan Terapi Sensory Integrasi (SI)
  • mulai membatasi menonton TV di rumah. baiknya 1/2 jam pagi dan 1/2 jam sore. Menonton TV harus yang interaktif dialog dan berbahasa Indonesia saja.
  • Sering ngajak inu ngobrol untuk stimulasi bicaranya
  • Ajak bermain flash card dan balok-balok

Keluar dari ruangan konsultasi, saya langsung buat janji untuk Assement Terapi Wicara dan Sensori Integrasi. Dan tanggal 22 Agustus Assesment  TW nya sudah dilakukan sedangkan SI Assesmnet kemarin pas tanggal 26 Agustusnya.

Sabtu dan Minggu ini, Inu sudah akan mulai terapinya. Semoga akan banyak perubahan yang baik ya Nak. Dokter berharap dalam 3 bulan kedepan akan banyak perubahan untuk Inu. Aamiin…

Sekian dulu ceritanya. Nanti saya akan rangkum lagi gimana proses terapi TW dan SI nya Inu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s