Rumahku, Istanaku

Dulu pernah posting tentang proses pencarian rumah. Sebenernya bisa disebut agak telat posting ini skr. Tp gpp lah. Setelah proses pencarian rumah pada tahun 2007, kebetulan tahun pada saat itu aku sedang cuti kerja untuk tugas belajar di UI, sehingga cukup banyak waktu untuk hunting rumah kesana kemari.

Singkat cerita, setelah melalui proses panjang cari sana-sini, akhirnya kita memutuskan untuk membeli rumah di Permata Depok Regency. Waktu itu pertimbangannya karena terletak di pinggir jalan raya, dekat statsiun kereta (Depok Lama), harganya cukup masuk perhitungan (sesuai budget maksudnya), dan modelnya juga lumayan bagus menurut kami.

Akhirnya bulan Maret 2008, pengajuan kredit kami di Bank Niaga di setujui sesuai dengan plafon. Oh iya, awalnya pengajuan ke Bank ini pake namaku, karena suami pengennya ini rumah pakai namaku, katanya kalo ada apa2 dengan dia, setidaknya dia sudah meninggalkan rumah buat aku, halahh.. ngomong apa coba tapi ditengah jalan, ditelpon oleh pihak bank yang nyaranin agar pengajuan diganti saja dengan nama suami, mungkin karena gw pns kali ya.., kemungkinan disetujuinya kecil hiks..hiks.., y owes gw sih setuju aja, tapi suami tetep pengennya itu rumah pakai namaku, dan ternyata bisa meskiupun pengajuan ke Bank adalah suami. Bulan depannya, pembangunan rumah di mulai. Pihak developer menjanjikan paling lambat 6 bulan lagi rumah kami sudah selesai.

Setiap dua minggu sekali kita dateng untuk ngeliat proses pembangunan rumah

Rumah ini modelnya minimalis. Tipe dan tanahnya juga gak terlalu besar sih, abis gimana donk kita punya duitnya cuma cukup untuk rumah yang sederhana aja, itupun setelah nabung cukup lama ditambah kebetulan abis dapet rapelan uang saku kuliah hehehe, kita berpikir, kalo gak sekarang kapan lagi, mana harga rumah tiap tahun terus naik, kalo gak berani ambil keputusan nanti gak akan punya-punya. Tul gak?

Singkat cerita, Sekitar bulan September (lupa.., nyesel gak sempet di dokumentasikan) serah terima kunci dengan pihak developer. Bulan depannya kita mulai renovasi kecil2an. Rencananya biar tanah di belakang rumah ketutup aja sih, jadi kalo masak gak keujanan. Waktu itu renovasi pakai jasa sodara yang kebetulan memang tukang bangunan. Karena keterbatasan dana, atap penutupnya juga pakai asbes aja, kita berpikir untuk sementara aja dulu, siapa tau kedepan ada rezeki baru tutup benaran hehe. Bulan berikutnya, ada rezeki dikit, akhirnya kita mempercantik penampakkan depan, pasang pagar dan batu alam.

Buuanyakkkk banget sebenernya yang aku pengen rapihin. Pengen pasang kitchen set, pengen perluas kamar utama, pengen percantik taman, wah banyak deh, tapi berhubung belom ada dana, jadi keinginannya di kubur dulu. Dipikir2 jadi kayak yang gak bersukur, Alhamdulillah udah punya rumah juga, karena mungkin masih banyak orang diluar sana yang masih keujanan, masih desek2an karena keluarganya banyak… Bersyukur…, intinya adalah harus bisa mensykuri apapun yang sudah Allah kasi untuk kita… setuju….

Proses Pembangunan Rumah sampai selesai

Setelah sedikit Renovasi

Seperti apapun dan bagaimanapun, Rumahku adalah Istanaku… hehehe🙂

One thought on “Rumahku, Istanaku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s